Subscribe to my full feed.

Wednesday, May 17, 2006

Pengumuman : Bapak Soeharto sakit ( lagi )

Beberapa waktu yang lalu hingga saat ini diberbagai media ramai memberitakan tentang Pak Soeharto ( mantan Presiden RI ) dan orang berpengaruh di Indonesia yang terserang penyakit.Mungkin akan beda jadinya atau biasa-biasa saja kalo yang sakit orang biasa yang tak “ berpangkat “ atau “ berpengaruh” di negeri ini.Ya…itulah salah satu beda ( atau konsekuensi kali ya ) jadi public figur ( dalam hal ini sebagai pemimpin bangsa ).

Ngomong2 bicara soal pemimpin dikaitkan dengan penyakit,siapa sih contoh yang paling baik dalam hal ini ?Siapa lagi kalo bukan Rosulullah Muhammad saw.Yehh…itu kan nabi lain donk ama kita-kita ( kalimat itulah yang sering terlontar kalo yang harus dijadikan panutan / teladan itu Rosulullah Muhammad saw ).Padahal….Rosullll jugaaaa manusia……....( kaya lagunya Seriues…:D ).

Sekali kalo kita ngaku muslim yuk kita jalankan Al Qur’an, liat yuk di QS 33:21 ,artinya : “ Sesungguhnya telah ada pada ( diri ) Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu ( yaitu ) bagi orang yang mengharap ( rahmat ) Alloh dan ( kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh “

Menurut riwayat, selama hidupnya Rosul hanya 2 kali sakit,yaitu pada pertengahan hidupnya dan menjelang wafatnya. Kok bisa ya?.....Bisa…itu kan Nabi bukan kita ( he..he..).Sekali lagi ..Rosullll… jugaaaa …….manusia……...Yuk kita cari rahasianya mengapa bisa begitu.

Setelah dipelajari oleh para ahlinya mengapa Rosul jarang sakit hal ini karena :

1. Beliau selalu menjaga kebersihan dirinya dari mulai ujung rambut sampe ujung kaki .Nah kalo ente sekarang masih jarang di shampoo atau kuku ga pernah dipotong dan lain sebagainya ( apalagi jarang mandi he…he..:D) wajar aja kalo kena penyakit.


2. Beliau selalu bangun 1/3 malam terakhir untuk melaksanakan shalat tahajud yang manfaatnya sangat luar biasa untuk kesehatan ( baik secara fisik maupun psikologis ). Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel di sebuah tabloid mengenai senam ergonomic yang di beri nama “ Mukjizat gerakan shalat”.Kenapa dinamakan seperti itu ?Karena ternyata gerakan-gerakan senam tersebut persis seperti gerakan shalat..( Nah lho….. kok baru sekarang ya ketahuannya ..).Menurut penelitian para pakar kesehatan ternyata dari gerakan-gerakan memijit jari tangan ( seperti wudhu ), ruku, sujud dll hal tersebut dapat meningkatkan kesehatan tubuh.Apalagi jika hal ini dilaksanakan dalam keadaan hening ( ya…1/3 malam itu kali ya ) tentu akan menambah ketenangan jiwa.

3. Selalu menjaga makanan : jenis makanan,waktu makan dll.Beliau selalu makan setelah lapar dan berhenti sebelum kenyang.Kalo kita bagaimana???Beliau juga senantiasa melaksanakan puasa-puasa sunah .Kalo kita???Hadits lainnya menyebutkan agar tubuh kita diisi oleh 1/3 makanan,1/3 minuman dan 1/3 udara.Kalo kita???:D.Ya kalo nggak bisa seluruhnya diikuti ,bertahap aja mudah2an kita juga bisa mengurangi frekuensi sakit kita.

Kembali ke Pak Harto yang lagi sakit,kira-kira udah berapa kali ya beliau sakit?Kalo mendekati Rosul berarti bagus,kalo sering???Ternyata memilih pemimpin dari sisi kesehatan bisa juga ya. Pilih yang seperti Rosul; jarang sakit,makan setelah lapar berhenti sebelum kenyang, tidak berlebih-lebihan dalam makan ( sehingga perutnya gak buncit ,maaf kalo ada yang tersinggung…saya hanya sedang menceritakan Rosul ), pandai bergulat ( olah raga populer saat itu ) dll.Bagaimana man ada gak ya ??( itu baru dari satu sisi lho )…….

Baca selengkapnya......

Tuesday, May 16, 2006

Undang-Undang Anti Pornografi dan Anti Pornoaksi sebuah angan-angan?

Terus terang tadinya saya malas mengomentari hal-hal seperti ini, karena saya pikir hal-hal seperti ini sudah jelas hitam-putihnya sehingga seharusnya tidak ada yang harus diributkan/sipersoalkan.Kalo nyontek kata-katanya Gus Dur, “Gitu aja kok ribut….”.Bagi orang yang sadar mungkin punya pandangan yang sama,wong udah jelas benar kok masih ditentang?...Wong udah jelas salah kok dibela?......

Makanya sorry mungkin komentarnya agak terlambat,tapi kata pepatah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.Semenjak punya blog,saya pingin blog saya bisa bermanfaat jadi tidak sekedar mengikuti tren,iseng atau hal-hal mubazir lainnya.Saya pikir berbuat kebaikan bisa dari mana saja termasuk lewat blog,artinya amar ma’ruf nahi munkarnya tetap jalan.

Ok, kembali ke topik utama,sebagai seorang muslim/muslimah rasanya kita sepakat bahwa hukum yang tertinggi adalah hukum Alloh swt ( Al Quran ), bukan hukum buatan manusia.Setuju gak ? Kalo setuju,berarti kita hanya tinggal membahas aplikasinya.Tapi kalo ga setuju ya..berarti sangat wajar kalo menentang RUU tersebut.Berarti harus belajar lagi mengapa kita lebih mengutamakan hukum buatan manusia dibanding hukum pembuat manusia yang tanpaNya manusia tidak mungkin ada,tidak mungkin hidup,tidak mungkin menentang hukumNya.

Sekaranag kita tidak membahas orang yang tidak setuju bahwa hukum tertinggi adalah hukum Alloh ( itu memerlukan bahasan yang panjang dan tentunya hidayah dari Nya).Sekarang kita membahas yang setuju aja tapi berbeda aplikasi, bisa karena nggak tahu atau mungkin lebih dikuasai oleh hawa nafsunya.

Di dalam QS 24 : 31 , yang artinya : “Katakanlah kepada wanita-wanita beriman,”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya,dan janganlah mereka menampakan perhiasannya kecuali yang ( biasa ) tampak daripadanya.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,dan janganlah menampakan perhiasannya ,kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka atau ayah suami mereka,atau putra-putra mereka atau putra-putra suami mereka, atau saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka ,atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak-budak yang mereka miliki,atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan ( terhadap wanita ),atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan .Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Alloh,hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. “ .Disitu sudah jelas bahwa Alloh memerintahkan kaum muslimah ( ciptaanNya ) untuk menutup auratnya kecuali muka dan telapak tangan( sebagian ada yang menafsirkan seluruh tubuhnya,tapi itu gak usah dipermasalahkan disini ).Setelah menutup aurat ya tentu saja harus dibarengi dengan akhlak yang baik bukan berarti setelah menutup aurat lantas boleh seenaknya bertingkah laku yang masih mengundang syahwat, ya..menyesuaikanlah dan inipun ada juga ayatnya ( tapi untuk sekarang ga usah banyak-banyak dulu ya yang tadi aja dulu).Insyaalloh dengan menutup aurat saja rasanya secara psikologis akan berdampak pada perbuatannya.

Jadi kalo kita benar-benar mengakui Alloh sebagai pencipta kita,yang membuat kita bisa ngomong,yang membuat kita bisa berpikir lalu mengapa kita tidak mau menuruti apa yang diperintahkanNya?Padahal harusnya kita bersyukur kita diberikan hati untuk merasakan,kita diberikan akal untuk berpikir, kita diberikan kebebasan untuk menilai yang benar atau yang salah.Kita seharusnya bersyukur kita tidak diciptakan menjadi robot yang tidak bisa menentukan keinginannya sendiri,apa kita mau diciptakan seperti itu ?

Sekarang kita lihat RUU APP tersebut bertentangan dengan Al Quir’an gak?kalo nggak ya berarti sudah sangat-sangat sewajarnya diaplikasikan.Kalo kita menentang berarti sama aja kita menentang Al Quran,sama aja kita menentang Alloh,pencipta kita yang sampai dengan detik ini masih memberi kita hidup,masih bisa membuat kita makan,masih bisa membuat kita menulis dan lain sebagainya.

Kenapa tidak kita coba aja ya,maksudnya coba diberlakukan selama beberapa saat kalo hasilnya bagus diterusin kalo nggak ya udah di cut aja.Satu cerita menarik, bahwa para biksu Budha mengunjungi Ust.Ba’asyir di penjara karena mereka bersimpati dan mendukung perjuangan ustad untuk menegakan hukum Islam di Indonesia,mengapa?Karena berdasarkan pengalaman mereka ketika bermukim di Kelantan Malaysia yang menerapkan hukum/syariah Islam ternyata mereka mendapatkan ketenangan dan kenyamanan hidup bermasyarakat.Tuh….Biksu Budha aja ngedukung kok kita malah menentang ya???

Lalu mengapa hingga saat ini RUU tersebut belum bisa disahkan,masihhhh…. saja terjadi kontroversial.Padahal sebenarnya kalaupun mengadop dari Al Qur’an,RUU tersebut hanya secuil dari Al Qur’an.Bisakah RUU tersebut menjadi UU dan disahkan?Terus terang saya agak pesimis.Padahal mayoritas penduduk Indonesia katanya beragama Islam???Apa KTP doang???Kok susah banget ya pingin nerapin yang seperti itu aja??

Untuk bisa menerapkan syariah/hukum Islam secara sempurna.rasanya minimal ada 2 hal yang harus dipenuhi yaitu :

1. Umat yang ingin menerapkan syariah Islam harus umat Islam yang sebenarnya ( bukan KTP doang )
2. Tempat untuk menerapkan syariah Islam harus tempat yang Islami bukan sebaliknya

Sekarang kita lihat apakah dua syarat diatas sudah terpenuhi?Kalo belum ya…bisa jadi RUU tersebut gak bakalan bisa diterapkan atau hanya sebuah angan-angan.Kalopun dipaksakan maka akan terjadi banyak gejolak yang mungkin akan menimbulkan banyak korban dan kalo itu yang kita pilih ,ya…kita harus siap dengan resikonya.

Jadi sekarang selain kita memperjuangkan RUU tersebut ya…kita harus memperjuangkan 2 syarat tadi.Caranya bagaimana?Untuk hal ini nanti aja deh dibahasnya panjang banget sih.Sebaiknya belajar aja pada para ulama yang banyak terdapat dinegeri kita ini OK.

Wallahu a'lam bi shawab.

Baca selengkapnya......

Tuesday, May 09, 2006

Pendidikan seks untuk anak

(Tulisan Ummi ke2)

Oleh-oleh Seminar
“Sex Education for The Children”
Pendidikan Seksualitas Pada Anak Sejak Usia Dini
Sabtu, 7 Mei 2006
Dra. Elly Risman, Yayasan Kita dan Buah Hati

Sabtu lalu saya mengikuti seminar di atas. Penyelenggaranya SD Mutiara Bunda Cilegon. Terdorong oleh kekhawatiran yang sangat akan pergaulan anak zaman sekarang, dan bayangan yang sangat mengerikan akan dunia yang akan anak-anak saya hadapi di masa datang.


Pembicaranya, Ibu Elly Risman, psikolog berpengalaman dengan dunia anak, melalui yayasan kita dan buah hatinya.Beberapa tahun lalu yayasan ini concern pada anak-anak tingkat SMP. Ingin diketahui sebenarnya seberapa jauh pengetahuan anak-anak di tingkat SMP ini tentang seks. Melihat banyaknya penyimpangan dan kejadian seksual yang menimpa anak-anak bahkan mulai pada tingkat SD, yayasan tersebut memperluas councelingnya hingga tingkat SD Dasar (Kelas 1-3). Hasil penelitiannya sangat mencengangkan!Coba simak uraian berikut:

Sedikit cerita metodologi penelitiannya ya…….
Jadi, setiap dua orang konselor yang telah mendapat pelatihan, mereka mendampingi kelompok anak-anak SD. Sampelnya kurang lebih sebanyak 1800 murid, yang berasal dari SD-SD Islam di 16 provinsi. ( maaf yang depannya Al…Al dan belakangnya IT…IT,apalagi yang bukan ya..... )
Setiap kelompok terdiri dari 10 orang anak. Pada hari pertama sang konselor bermain bersama anak-anak tersebut, membuat mereka dekat dan percaya pada sang konselor. Pada hari berikutnya, pertanyaan-pertanyaan seputar seks muncul dari mulut anak2 tanpa paksaan, panduan atau dorongan (satu orang koselor mendampingi, yang lainnya mencatatnya)

Mengapa hasilnya sangat mencengangkan? Karena anak-anak tingkat SD dasar tersebut telah mengenal istilah-istilah seks tanpa tahu artinya.Misalnya beberapa pertanyaan yang muncul (Wah saya ga catat semua, jadi hanya beberapa aja yang saya ingat :

“ Kondom itu apa?”
“ Aku asalnya dari mana?”
“ Germo itu apa?”
“ Kenapa kita harus nikah?”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak bisa saya tuliskan disini ( khawatir kurang sopan atau melanggar etika )

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa ada benang merah dari semua itu, yaitu akses informasi seks yang begitu mudah didapat dan menyerbu anak dari segala penjuru, dari kiri, kanan, depan, belakang..Saya jadi ingat ayat alqur’an yang kurang lebih artinya kayak gini : “Syetan itu tidak akan berhenti menggoda hingga kita mengikuti dia. Dia akan menggoda kita dari kiri, kanan, depan, belakang”.

Akses informasi tersebut diperoleh baik lewat internet, HP, buku komik dewasa dan anak, Televisi (sinetron, film), CD, Play station dsb, media informasi yang saat ini sangat dekat dengan keseharian anak-anak.Semua media informasi tersebut menyerbu anak-anak dan dikemas sedemikian rupa hingga perbuatan seks tersebut dianggap lumrah dan menyenangkan. Dari mulai ciuman, seks bebas (berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan,ganti-ganti pasangan dsb), seks bareng, homo/lesbi, hingga incest, semuanya tersedia dalam berbagai media informasi di atas dan jumlahnya membentuk piramida terbalik. Ngeri ya!

Otak anak2 yang sekali, dua kali, dan berkali-kali melihat tayangan tersebut akan merekamnya dan membentuknya menjadi suatu pandangan/nilai seksualitas yang dianutnya hingga dia dewasa.

Jalan satu-satunya menyikapi fenomena ini adalah kita harus membentengi anak-anak kita dengan nilai-nilai seksualitas yang benar, yang dilandasi dengan agama. Kita pengen anak kita punya seksualitas yang sehat, benar dan lurus kan? Perbuatan seks dilakukan secara sehat, tidak membawa dampak negatif pada fisiknya. Bukan lewat masturbasi, atau berganti-ganti pasangan, tapi dilakukan dengan pasangan sahnya. Kita juga ingin anak-anak kita melakukannya secara benar, yaitu setelah menikah, karena semuanya akan dipertanggungjawabkannya di akherat. Seks juga dilakukan sesuai tuntunan agama, tidak homo/lesbi, tidak incest. Naudzubillahi min dzalik!

Jangan bilang, bahwa penyimpangan seks tidak diketahui anak-anak kita! Siapa yang tahu apa informasi yang anak kita peroleh di sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan pergaulannya.

Mungkin sekarang saatnya merubah paradigma, bahwa membicarakan seks itu bukan sesuatu yang tabu..Siapa lagi yang mendidiknya, kalo bukan ibunya. “Al Ummi, Al Madrosah”.Meskipun dalam teknisnya, hal tersebut tidak cukup dilakukan sendirian, kita harus bekerjasama dengan suami, keluarga besar, dan tetangga/lingkungan.

Duh susah ya, padahal selama ini, kita tidak pernah menjalani sekolah untuk menjadi seorang ibu! Kita sandang predikat itu secara otomatis, padahal konsekuensinya berat sekali.Yang paling dasar, ga bisa kita menyampaikan pendidikan seks secara benar sama anak kita, kalo komunikasi kita sama anak ga baik! (ayo, perbaiki komunikasi sama anak!, waduh ini juga butuh pengetahuan, latihan dan kesabaran).

Menurut Ibu Elly, menyampaikan pendidikan seks pada anak berbeda, bergantung pada tingkatan usianya. Dari mulai tingkatan bayi, batita, balita, SD kelas rendah, SD kelas tinggi, dan atas usia SD. Issue yang dibahas bisa sama, namun penjelasan lebih mendetail seiring tingkatan usia, kemampuan berfikir dan perkembangan emosi.

Dalam Islam, fase perkembangan anak terbagi dalam tiga periode: 7 Tahun pertama, anak adalah anak-anak, yang membutuhkan perlindungan, kasih sayang, masa bermain sebagaimana layaknya masa kanak-kanak. 7 tahun kedua (7-14 tahun) anak adalah teman kita. Pada saat ini anak perempuan biasanya sudah mendapat mens, laki-laki sudah mendapat mimpi basah. Mereka sudah akil baligh, mereka sebagaimana kita, yang sudah bertanggung jawab kepada Allah atas segala perbuatannya. Di usia ini mereka harus mendapat nilai-nilai (hidup) yang benar, yang akan menuntun mereka di usia dewasanya. Adalah sangat penting, menjadikan kita, ibunya, sebagai teman yang dipercayainya. 7 tahun berikutnya, anak sudah menjadi dewasa yang memiliki kebebasan untuk memilih. Ia sekarang adalah partner kita.

Sebenarnya rasa ingin tahu anak tentang seks adalah hal yang wajar, sebagai konsekuensi dari perkembangannya. Jangan sampai keingintahuan tersebut terjawab dengan informasi yang tidak benar. Ya kan?

Ringkasnya, bagaimana kiat-kiat menghadapi pertanyaan anak tentang seks :

1. Tenang, kontrol diri, dan “take it easy”
2. Cek pemahaman anak
3. Apa yang anda rasakan, katakanlah
4. Jawab atau tidak
5. Kaitkan dengan seseorang yang dekat dan dikenal anak
6. Ingat : PS (Pendek dan Sederhana)
7. Gunakan : The golden opportunity
8. Kalau tidak menjawab/belum tahu : tunda dengan jujur.

Kiat dasar mengasuh seksualitas :

1. Jangan borongan : sedini mungkin
2. Proaktif – terlibat penuh : jangan tunggu anak bertanya
3. Jangan pernah eksport tanggung jawab : di”leskan”

Sekian dulu yang bisa saya berikan sebagai oleh-oleh dari seminar diatas, semoga bermanfaat.

Bersambung man.......

Baca selengkapnya......

Menjadi seorang Ibu

Ass.wr.wb

Beberapa hari setelah saya membuat blog ,saya ceritakan hal ini pada istri.Tampaknya dia tertarik dengan cerita saya dan pingin lebih tahu mengenai blog ini.Sampai-sampai terlontar pertanyaan apa sih bedanya blog sama e-mail?(Saya geli aja mendengarnya) maklum memang dia kurang mengikuti perkembangan dunia maya .Kemudian saya sarankan supaya dia sering ngonect internet aja,tapi sayang dikantornya koneksi ke internet masih terbatas ( hanya orang tertentu saja ).
Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalo ngisi tulisan-tulisan di blog saya aja,sementara belum punya blog sendiri dan dia setuju. Insyaalloh mulai hari ini istri saya ikut menulis di blog ini. Berikut salah satu tulisannya.


Seorang khadimat (pembantu) bagi saya adalah seseorang yang sangat spesial. Dia bukan hanya seseorang yang membantu saya menyelesaikan sebagian pekerjaan rumah tangga, tapi dia juga seorang yang membantu saya pendampingi dua anak balita saya ketika saya bekerja, Syahid (3,5 tahun) dan Salma (20 bulan) yang sedang menapaki masa-masa keemasannya (the golden age, kalo ahli bilang).

Menjadi seorang pendamping anak balita sungguh tidak mudah..Dia tidak hanya membutuhkan orang yang mau mengganti celana anak2 pada saat dia ngompol atau yang tidak jijik nyebokin anak2 atau yang mau nyuapin anak2, tapi dia juga orang yang sabar memenuhi permintaan anak2 yang tidak ada habisnya , sabar menemanii anak2 bermain, belajar, menonton dsb dan dia juga sabar ketika anak2 memarahi dan kadang menganiaya dia (waduh!).

“Makasih ya Teh Enah (Teh Jam, Teh Nur, dan Teh Eka), mudah-mudahan semuanya dibalas berlipat ganda oleh Allah….”

Tapi saya bukanya mau cerita tentang khadimat saya, tapi saya mau cerita tentang salah satu pengalaman saya melewati hari bersama dua orang anak yang sedang mengembangkan kemampuan eksplorasinya. Kebetulan saat itu khadimat saya sedang libur Yang pasti saya jadi kebayang deh, betapa repotnya khadimat saya menjalani hari-harinya sebagai pendamping mereka,…”mudah2an tetap sabar ya Teh”

Dua anak balita saya, Syahid dan Salma udah keliatan beda sekali karakternya. Si Kakak memiliki karakter ekspressif, dia pintar mengutarakan keinginannya, pendapatnya, ataupun kritiknya dalam bahasa verbal. (atau memang sedang pada masanya mungkin ya). Tapi kemandirian dan rasa empatinya tidak sebesar adiknya. Tapi si Adik, Salma, saat ini dia belum memiliki kemampuan verbal. Dia menyatakan keinginannya dalam bentuk aksi fisik. Biasa lah adik kakak, sebentar berantem, sebentar akur, tapi keduanya kompak banget, saling merasa kehilangan kalo salah satu ga ada… (duh senangnya!)

Pagi itu, khadimat saya ngirim berbagai makanan khas Cilegon. Dia sedang merayakan muludan. Katanya kalo di sini, muludan itu ramenya seperti lebaran Idul Fitri. Selain makanan dia juga mengirim dua buah hiasan semacam lampion dari kertas, yang di dalamnya ada telur rebus.

Dapat kiriman makanan sebegitu banyak, saya langsung terbayang untuk membagi tetangga. Mumpung masih pagi dan masih hangat, mudah2an jadi ga mubazir. Jadilah konsentrasi saya terpusat pada bagi-bagi makanan.

Lain lagi dengan dua anak saya, mereka langsung asyik dengan mainan barunya. Wing….wing… si lampion itu diayun-ayun ke kanan dan kiri Jadilah telurnya jatuh dan … retak!. Syahid bilang, “Mi, liat deh mi, telurnya mau ngelahirin, sebentar lagi keluar ayam nih mi, kayak ayamnya Ijal.”Ibunya terus aja asyik ngurusin makanan., dia cuma seyum dan komentar “Itu telur matang sayang, ga akan keluar ayam”.. Sementara adiknya asyik aja ngeliatin tingkah kakaknya.

Ga lama, ketika si ibu menoleh, si telur itu telah terserak di karpet, wah langsung dia panik, terbayang deh bau amis di mana-mana..”A, kenapa telurnya dipecahin, kan udah ummi bilang itu telur matang…”. Kemudian Si Aa menjawab, “ Telurnya udah ngelahirin mi…. tuh udah pecah”
Si adik, tiba-tiba udah megang sapu, rupanya dia ngerti kalo ibunya panik,. Dia mau membantu membersihkan karpet. Tapi jadinya telur itu malah makin berserakan kemana-mana…. Wah si ibu makin panik. “De, udah de biar ummi aja yang nyapu ya sayang”. Sapunya si ibu ambil, dan dia mencoba memunguti serpihan telur. Tak hilang akal, si adik datang lagi, kali ini dia mengambil segayung air. Air nampak tercecer sejak dari dapur hingga ruang tv. Rupanya si adik mau membantu ibunya menyiram lantai. Waduh si ibu makin panik, dia membujuk si adik untuk memberikan gayung tersebut, dan segera menyimpannya ke dapur. Sang kakak tenang2 saja bermain dengan lampionya. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun. Si adik marah, menyusul umminya ke dapur, dan…… dak ! dia terpeleset, kepalanya membentur lantai…. Nangislah dia dengan kerasnya!
Umminya langsung menggendongnya dan membujuknya…. “ A, adeknya kenapa bukannya dijagain dulu, tuh sekarang jadi jatuh, kasihan…” Melihat adiknya nangis, si kakak cuek ajak, dia malah manjat-manjat jendela, dan… dak! Dia juga jatuh, dagunya membentur jendela, … jadilah dua orang balita yang menangis dengan kerasnya……

Cerita diatas hanyalah sedikit pengalaman saya dalam merawat anak2 balita saya,mungkin masih banyak cerita lain diluar sana yang lebih “seru” dari cerita ini. Namun saya jadi teringat pesan Abinya bahwa seorang istri itu sebenarnya mempunyai kesempatan jihad yang lebih besar dibanding suaminya.Kenapa? Karena ketika dia memulai suatu pernikahan sebenarnya dia sudah melangkah masuk pada dunia jihadnya.Di mana dalam rumah tangga dia harus berbakti pada suami, harus ikhlas merawat anak2nya dan tugas lainnya yang harus dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.Jadi mari kita jadikan posisi kita sebagai istri dan pengurus rumah tangga sebagai medan untuk berjihad.Semoga kita tetap diberi keistiqomahan dalam menjalankan perintahNya.

Baca selengkapnya......