Subscribe to my full feed.

Tuesday, May 09, 2006

Menjadi seorang Ibu

Ass.wr.wb

Beberapa hari setelah saya membuat blog ,saya ceritakan hal ini pada istri.Tampaknya dia tertarik dengan cerita saya dan pingin lebih tahu mengenai blog ini.Sampai-sampai terlontar pertanyaan apa sih bedanya blog sama e-mail?(Saya geli aja mendengarnya) maklum memang dia kurang mengikuti perkembangan dunia maya .Kemudian saya sarankan supaya dia sering ngonect internet aja,tapi sayang dikantornya koneksi ke internet masih terbatas ( hanya orang tertentu saja ).
Akhirnya saya menawarkan bagaimana kalo ngisi tulisan-tulisan di blog saya aja,sementara belum punya blog sendiri dan dia setuju. Insyaalloh mulai hari ini istri saya ikut menulis di blog ini. Berikut salah satu tulisannya.


Seorang khadimat (pembantu) bagi saya adalah seseorang yang sangat spesial. Dia bukan hanya seseorang yang membantu saya menyelesaikan sebagian pekerjaan rumah tangga, tapi dia juga seorang yang membantu saya pendampingi dua anak balita saya ketika saya bekerja, Syahid (3,5 tahun) dan Salma (20 bulan) yang sedang menapaki masa-masa keemasannya (the golden age, kalo ahli bilang).

Menjadi seorang pendamping anak balita sungguh tidak mudah..Dia tidak hanya membutuhkan orang yang mau mengganti celana anak2 pada saat dia ngompol atau yang tidak jijik nyebokin anak2 atau yang mau nyuapin anak2, tapi dia juga orang yang sabar memenuhi permintaan anak2 yang tidak ada habisnya , sabar menemanii anak2 bermain, belajar, menonton dsb dan dia juga sabar ketika anak2 memarahi dan kadang menganiaya dia (waduh!).

“Makasih ya Teh Enah (Teh Jam, Teh Nur, dan Teh Eka), mudah-mudahan semuanya dibalas berlipat ganda oleh Allah….”

Tapi saya bukanya mau cerita tentang khadimat saya, tapi saya mau cerita tentang salah satu pengalaman saya melewati hari bersama dua orang anak yang sedang mengembangkan kemampuan eksplorasinya. Kebetulan saat itu khadimat saya sedang libur Yang pasti saya jadi kebayang deh, betapa repotnya khadimat saya menjalani hari-harinya sebagai pendamping mereka,…”mudah2an tetap sabar ya Teh”

Dua anak balita saya, Syahid dan Salma udah keliatan beda sekali karakternya. Si Kakak memiliki karakter ekspressif, dia pintar mengutarakan keinginannya, pendapatnya, ataupun kritiknya dalam bahasa verbal. (atau memang sedang pada masanya mungkin ya). Tapi kemandirian dan rasa empatinya tidak sebesar adiknya. Tapi si Adik, Salma, saat ini dia belum memiliki kemampuan verbal. Dia menyatakan keinginannya dalam bentuk aksi fisik. Biasa lah adik kakak, sebentar berantem, sebentar akur, tapi keduanya kompak banget, saling merasa kehilangan kalo salah satu ga ada… (duh senangnya!)

Pagi itu, khadimat saya ngirim berbagai makanan khas Cilegon. Dia sedang merayakan muludan. Katanya kalo di sini, muludan itu ramenya seperti lebaran Idul Fitri. Selain makanan dia juga mengirim dua buah hiasan semacam lampion dari kertas, yang di dalamnya ada telur rebus.

Dapat kiriman makanan sebegitu banyak, saya langsung terbayang untuk membagi tetangga. Mumpung masih pagi dan masih hangat, mudah2an jadi ga mubazir. Jadilah konsentrasi saya terpusat pada bagi-bagi makanan.

Lain lagi dengan dua anak saya, mereka langsung asyik dengan mainan barunya. Wing….wing… si lampion itu diayun-ayun ke kanan dan kiri Jadilah telurnya jatuh dan … retak!. Syahid bilang, “Mi, liat deh mi, telurnya mau ngelahirin, sebentar lagi keluar ayam nih mi, kayak ayamnya Ijal.”Ibunya terus aja asyik ngurusin makanan., dia cuma seyum dan komentar “Itu telur matang sayang, ga akan keluar ayam”.. Sementara adiknya asyik aja ngeliatin tingkah kakaknya.

Ga lama, ketika si ibu menoleh, si telur itu telah terserak di karpet, wah langsung dia panik, terbayang deh bau amis di mana-mana..”A, kenapa telurnya dipecahin, kan udah ummi bilang itu telur matang…”. Kemudian Si Aa menjawab, “ Telurnya udah ngelahirin mi…. tuh udah pecah”
Si adik, tiba-tiba udah megang sapu, rupanya dia ngerti kalo ibunya panik,. Dia mau membantu membersihkan karpet. Tapi jadinya telur itu malah makin berserakan kemana-mana…. Wah si ibu makin panik. “De, udah de biar ummi aja yang nyapu ya sayang”. Sapunya si ibu ambil, dan dia mencoba memunguti serpihan telur. Tak hilang akal, si adik datang lagi, kali ini dia mengambil segayung air. Air nampak tercecer sejak dari dapur hingga ruang tv. Rupanya si adik mau membantu ibunya menyiram lantai. Waduh si ibu makin panik, dia membujuk si adik untuk memberikan gayung tersebut, dan segera menyimpannya ke dapur. Sang kakak tenang2 saja bermain dengan lampionya. Dia tidak merasa bersalah sedikitpun. Si adik marah, menyusul umminya ke dapur, dan…… dak ! dia terpeleset, kepalanya membentur lantai…. Nangislah dia dengan kerasnya!
Umminya langsung menggendongnya dan membujuknya…. “ A, adeknya kenapa bukannya dijagain dulu, tuh sekarang jadi jatuh, kasihan…” Melihat adiknya nangis, si kakak cuek ajak, dia malah manjat-manjat jendela, dan… dak! Dia juga jatuh, dagunya membentur jendela, … jadilah dua orang balita yang menangis dengan kerasnya……

Cerita diatas hanyalah sedikit pengalaman saya dalam merawat anak2 balita saya,mungkin masih banyak cerita lain diluar sana yang lebih “seru” dari cerita ini. Namun saya jadi teringat pesan Abinya bahwa seorang istri itu sebenarnya mempunyai kesempatan jihad yang lebih besar dibanding suaminya.Kenapa? Karena ketika dia memulai suatu pernikahan sebenarnya dia sudah melangkah masuk pada dunia jihadnya.Di mana dalam rumah tangga dia harus berbakti pada suami, harus ikhlas merawat anak2nya dan tugas lainnya yang harus dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.Jadi mari kita jadikan posisi kita sebagai istri dan pengurus rumah tangga sebagai medan untuk berjihad.Semoga kita tetap diberi keistiqomahan dalam menjalankan perintahNya.

No comments:

Post a Comment