Subscribe to my full feed.

Tuesday, May 09, 2006

Pendidikan seks untuk anak

(Tulisan Ummi ke2)

Oleh-oleh Seminar
“Sex Education for The Children”
Pendidikan Seksualitas Pada Anak Sejak Usia Dini
Sabtu, 7 Mei 2006
Dra. Elly Risman, Yayasan Kita dan Buah Hati

Sabtu lalu saya mengikuti seminar di atas. Penyelenggaranya SD Mutiara Bunda Cilegon. Terdorong oleh kekhawatiran yang sangat akan pergaulan anak zaman sekarang, dan bayangan yang sangat mengerikan akan dunia yang akan anak-anak saya hadapi di masa datang.


Pembicaranya, Ibu Elly Risman, psikolog berpengalaman dengan dunia anak, melalui yayasan kita dan buah hatinya.Beberapa tahun lalu yayasan ini concern pada anak-anak tingkat SMP. Ingin diketahui sebenarnya seberapa jauh pengetahuan anak-anak di tingkat SMP ini tentang seks. Melihat banyaknya penyimpangan dan kejadian seksual yang menimpa anak-anak bahkan mulai pada tingkat SD, yayasan tersebut memperluas councelingnya hingga tingkat SD Dasar (Kelas 1-3). Hasil penelitiannya sangat mencengangkan!Coba simak uraian berikut:

Sedikit cerita metodologi penelitiannya ya…….
Jadi, setiap dua orang konselor yang telah mendapat pelatihan, mereka mendampingi kelompok anak-anak SD. Sampelnya kurang lebih sebanyak 1800 murid, yang berasal dari SD-SD Islam di 16 provinsi. ( maaf yang depannya Al…Al dan belakangnya IT…IT,apalagi yang bukan ya..... )
Setiap kelompok terdiri dari 10 orang anak. Pada hari pertama sang konselor bermain bersama anak-anak tersebut, membuat mereka dekat dan percaya pada sang konselor. Pada hari berikutnya, pertanyaan-pertanyaan seputar seks muncul dari mulut anak2 tanpa paksaan, panduan atau dorongan (satu orang koselor mendampingi, yang lainnya mencatatnya)

Mengapa hasilnya sangat mencengangkan? Karena anak-anak tingkat SD dasar tersebut telah mengenal istilah-istilah seks tanpa tahu artinya.Misalnya beberapa pertanyaan yang muncul (Wah saya ga catat semua, jadi hanya beberapa aja yang saya ingat :

“ Kondom itu apa?”
“ Aku asalnya dari mana?”
“ Germo itu apa?”
“ Kenapa kita harus nikah?”

Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak bisa saya tuliskan disini ( khawatir kurang sopan atau melanggar etika )

Hasil penelitiannya menunjukan bahwa ada benang merah dari semua itu, yaitu akses informasi seks yang begitu mudah didapat dan menyerbu anak dari segala penjuru, dari kiri, kanan, depan, belakang..Saya jadi ingat ayat alqur’an yang kurang lebih artinya kayak gini : “Syetan itu tidak akan berhenti menggoda hingga kita mengikuti dia. Dia akan menggoda kita dari kiri, kanan, depan, belakang”.

Akses informasi tersebut diperoleh baik lewat internet, HP, buku komik dewasa dan anak, Televisi (sinetron, film), CD, Play station dsb, media informasi yang saat ini sangat dekat dengan keseharian anak-anak.Semua media informasi tersebut menyerbu anak-anak dan dikemas sedemikian rupa hingga perbuatan seks tersebut dianggap lumrah dan menyenangkan. Dari mulai ciuman, seks bebas (berhubungan seks sebelum nikah, menjual keperawanan,ganti-ganti pasangan dsb), seks bareng, homo/lesbi, hingga incest, semuanya tersedia dalam berbagai media informasi di atas dan jumlahnya membentuk piramida terbalik. Ngeri ya!

Otak anak2 yang sekali, dua kali, dan berkali-kali melihat tayangan tersebut akan merekamnya dan membentuknya menjadi suatu pandangan/nilai seksualitas yang dianutnya hingga dia dewasa.

Jalan satu-satunya menyikapi fenomena ini adalah kita harus membentengi anak-anak kita dengan nilai-nilai seksualitas yang benar, yang dilandasi dengan agama. Kita pengen anak kita punya seksualitas yang sehat, benar dan lurus kan? Perbuatan seks dilakukan secara sehat, tidak membawa dampak negatif pada fisiknya. Bukan lewat masturbasi, atau berganti-ganti pasangan, tapi dilakukan dengan pasangan sahnya. Kita juga ingin anak-anak kita melakukannya secara benar, yaitu setelah menikah, karena semuanya akan dipertanggungjawabkannya di akherat. Seks juga dilakukan sesuai tuntunan agama, tidak homo/lesbi, tidak incest. Naudzubillahi min dzalik!

Jangan bilang, bahwa penyimpangan seks tidak diketahui anak-anak kita! Siapa yang tahu apa informasi yang anak kita peroleh di sekolahnya, di rumahnya, di lingkungan pergaulannya.

Mungkin sekarang saatnya merubah paradigma, bahwa membicarakan seks itu bukan sesuatu yang tabu..Siapa lagi yang mendidiknya, kalo bukan ibunya. “Al Ummi, Al Madrosah”.Meskipun dalam teknisnya, hal tersebut tidak cukup dilakukan sendirian, kita harus bekerjasama dengan suami, keluarga besar, dan tetangga/lingkungan.

Duh susah ya, padahal selama ini, kita tidak pernah menjalani sekolah untuk menjadi seorang ibu! Kita sandang predikat itu secara otomatis, padahal konsekuensinya berat sekali.Yang paling dasar, ga bisa kita menyampaikan pendidikan seks secara benar sama anak kita, kalo komunikasi kita sama anak ga baik! (ayo, perbaiki komunikasi sama anak!, waduh ini juga butuh pengetahuan, latihan dan kesabaran).

Menurut Ibu Elly, menyampaikan pendidikan seks pada anak berbeda, bergantung pada tingkatan usianya. Dari mulai tingkatan bayi, batita, balita, SD kelas rendah, SD kelas tinggi, dan atas usia SD. Issue yang dibahas bisa sama, namun penjelasan lebih mendetail seiring tingkatan usia, kemampuan berfikir dan perkembangan emosi.

Dalam Islam, fase perkembangan anak terbagi dalam tiga periode: 7 Tahun pertama, anak adalah anak-anak, yang membutuhkan perlindungan, kasih sayang, masa bermain sebagaimana layaknya masa kanak-kanak. 7 tahun kedua (7-14 tahun) anak adalah teman kita. Pada saat ini anak perempuan biasanya sudah mendapat mens, laki-laki sudah mendapat mimpi basah. Mereka sudah akil baligh, mereka sebagaimana kita, yang sudah bertanggung jawab kepada Allah atas segala perbuatannya. Di usia ini mereka harus mendapat nilai-nilai (hidup) yang benar, yang akan menuntun mereka di usia dewasanya. Adalah sangat penting, menjadikan kita, ibunya, sebagai teman yang dipercayainya. 7 tahun berikutnya, anak sudah menjadi dewasa yang memiliki kebebasan untuk memilih. Ia sekarang adalah partner kita.

Sebenarnya rasa ingin tahu anak tentang seks adalah hal yang wajar, sebagai konsekuensi dari perkembangannya. Jangan sampai keingintahuan tersebut terjawab dengan informasi yang tidak benar. Ya kan?

Ringkasnya, bagaimana kiat-kiat menghadapi pertanyaan anak tentang seks :

1. Tenang, kontrol diri, dan “take it easy”
2. Cek pemahaman anak
3. Apa yang anda rasakan, katakanlah
4. Jawab atau tidak
5. Kaitkan dengan seseorang yang dekat dan dikenal anak
6. Ingat : PS (Pendek dan Sederhana)
7. Gunakan : The golden opportunity
8. Kalau tidak menjawab/belum tahu : tunda dengan jujur.

Kiat dasar mengasuh seksualitas :

1. Jangan borongan : sedini mungkin
2. Proaktif – terlibat penuh : jangan tunggu anak bertanya
3. Jangan pernah eksport tanggung jawab : di”leskan”

Sekian dulu yang bisa saya berikan sebagai oleh-oleh dari seminar diatas, semoga bermanfaat.

Bersambung man.......

1 comment:

  1. wah sayang juga ye gw gak ikutan....
    kapan ada lagi ??? padahal deket rumah gw tuch

    ReplyDelete