Subscribe to my full feed.

Tuesday, November 28, 2006

Belajar dari spiritualitas orang Bali

Artikel ini saya dapat dari portal perusahaan, kayanya bagus juga untuk kita pelajari, direnungkan dan diaplikasikan. Masyarakat Bali dengan ketulusannya menjalankan syariat Hindu bisa seperti itu, lantas mengapa masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam ( yang di Al Qur'an disebutkan sebagai agama/ideologi terbaik ) kondisinya jauh dari yang diharapkan. Tanyaken Apa?? Karena tugas perusahaan maka saya pernah mengunjungi beberapa negara, tetapi ke pulau Bali sampai tahun 2006 malah belum pernah. Kesempatan ke pulau Bali akhirnya datang juga di awal bulan Nopember 2006, lagi-lagi karena tugas perusahaan, alias bukan biaya sendiri he..he..he.. gratisan terus, kalau biaya sendiri apalagi bawa keluarga waduh berat di ongkos mas. Saya ingin ke Bali karena ingin membuktikan cerita bahwa di sana orang tidak berani mencuri, orang tidak berani berbuat jahat, orang tidak berani berbuat negatif karena takut kepada balasan karma. Menurut pendapat saya ini sangat mengagumkan, karena manusia bisa terkendali oleh suatu nilai luhur (spiritual) secara praktek. Biasanya yang terjadi di masyarakat adalah nilai luhur spiritual banyak diajarkan, tetapi realitas yang diharapkan dari nilai-nilai tersebut tidak muncul dalam prakteknya. Telah terjadi decoupling (pemisahan) antara nilai luhur spiritual dan kenyataan yang terjadi. Banyak tempat ibadah dibangun tetapi banyak juga kejahatan, laku ritual banyak dikerjakan tetapi berbagai kemunduran (di berbagai bidang) juga terjadi.

Sesampai di Bali saya telah mendapatkan bukti, saat naik taksi si sopir (pakMade) bertanya kepada saya pada saat saya shooting pemandangan dengan handycam, "Pak, alat untuk shooting itu berapa harganya ?", "Sekitar 3 juta rupiah, ada apa pak ?", "Kemarin ada tertinggal handycam di taksi saya, saya ingin mengembalikan belum ketemu orangnya, saya mau simpan dulu sampai nanti ketemu orang tersebut, supaya tidak rusak bagimana menyimpannya pak ?", "Disimpan di lemari yang kering pak, jangan kena lembab atau air", "Terimakasih pak, semoga nanti ketemu lagi dengan yang punya handycam ini di suatu saat". Kalau yang jadi sopir taksi bukan pakMade pasti handycam tersebut telah dijual.

Sepanjang perjalanan ke hotel terlihat pemandangan yang begitu rapi dan indah, hampir tidak ada kekumuhan yang dijumpai. Rumah-rumah dibangun dengan keindahan yang tinggi walaupun rumah sederhana. Hampir di setiap rumah tersedia tempat sembahyang di bagian depan. Sampai di Tabanan terbentang persawahan yang nenghampar hijau walaupun sedang musim kemarau, ternyata sistem pengairan Subak yang terkenal itulah yang menciptakan kondisi ini. Kebetulan saya menginap di hotel dekat TanahLot, kondisi tempat wisata ini begitu bersih dan rapi, tidak ada pengemis, penjual cenderamata berjualan dengan normal tidak memaksa wisatawan untuk membeli. Saat makan saya pergi ke rumahmakan yang ternyata dimiliki oleh orang Jawa (Banyuwangi). Saya bertanya, apa betul bu di sini tidak ada pencurian ? Betul pak, orang sini tidak berani mencuri, motor saya taruh saja di luar tidak dikunci ya tidak apa-apa kok pak. Setelah bekerja sesuai profesi masing-masing kemudian sore harinya pada sembahyang di pura. Begitu rutinitas sehari-hari mereka.

Jalan-jalan di Bali relatif sempit, tetapi tidak dijumpai kesemrawutan dan kebut-kebutan, orang memacu kendaraannya secara normal-normal saja. Jarang terdengar ada klakson yang berbunyi.

Begitulah sekelumit contoh spiritualitas orang Bali, saya juga menjumpai hal serupa waktu pergi ke Jepang, sopir taksi yang menjemput saya di bandara tetap ada walaupun kedatangan saya terlambat sehari.

Spiritualitas akan menciptakan realitas yang baik dan menyenangkan jika diaplikasikan dalam kehidupan, kalau tidak maka apa yang disebut spiritualitas hanyalah absurditas yang mengawang-awang di langit tidak pernah membumi.

No comments:

Post a Comment