Subscribe to my full feed.

Monday, May 03, 2010

Menyapa Anak Krakatau

Mengobati kerinduan rekan-rekan Karpala Wanabaja yang cukup lama tidak melakukan jelajah keluar kota,pada tanggal 17-18 April 2010 yang lalu Karpala Wanabaja melakukan agenda jelajah keluar dari pulau Jawa melintasi sebrang Sumatera yaitu pendakian gunung berapi paling fenomenal Anak Krakatau .

Gunung Anak Krakatau termasuk salah satu gunung berapi aktif ,yang terletak sekitar 8 mil laut dari Pulau Sebesi,salah satu pulau yang berpenghuni. Kepulauan Krakatau secara administratif termasuk kedalam Wilayah Kecamatan Kalianda Kabupaten Lampung Selatan.Dan sesuai Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan RI No.85/Kpts.II/1990 tertanggal 26 Februari 1990 bahwa kawasan Anak Gunung Krakatau dan sekitarnya ditetapkan sebagai kawasan cagar alam laut.

Even kali ini diikuti oleh 78 orang peserta termasuk Bpk Kuswanto selaku ketum BPOSKS yang turut menyertai kami sampai Dermaga Canti.Rute melalui Dermaga Canti, Kalianda, Lampung Selatan ini kami pilih setelah melalui beberapa pertimbangan teknis dan ekonomis.

Perjalanan dimulai dengan briefing d
an pengarahan di Lapangan Bapor,kemudian dengan bersepeda motor dilanjutkan menuju pelabuhan Merak disambung ke Bakauheni yang ditempuh selama kurang lebih 2,5 jam.

Dalam perjalanan menuju Canti,rombongan beristirahat sejenak di Simpang Gayam sambil melengkapi perbekalan dengan berbelanja di swalayan setempat.Dari sini perjalanan di lanjutkan dengan melalui jalur pesisir dengan pertimbangan safety karena lalulintasnya tidak seramai jika melalui jalan utama Trans Sumatra.

Sekitar pukul 13.30 kami tiba di Dermaga Canti,Canti merupakan pelabuhan nelayan yang terdekat dengan Krakatau yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Walaupun agak kecil ,dermaga inilah yang memasok kebutuhan warga yang tinggal di kepulauan sekitar Gunung Krakatau. Dari pelabuhan ini juga bi
asanya pengunjung Anak Krakatau memulai perjalanannya. Setelah melapor dan menyerahkan list peserta kepada petugas dermaga setempat dan dilepas oleh Bpk Kuswanto ,perjalanan ke Krakataupun di mulai dengan menggunakan kapal motor yang kami disewa di dermaga ini.

Perjalanan laut kali ini cukup ten
ang karena memang pada bulan April s/d Agustus sudah memasuki musim kemarau yang mana gelombang laut tidak begitu besar.Meskipun agak tenang, pelampung jingga yang disediakan oleh penyedia kapal disarankan agar tetap dipakai.Ombak dan angin barat di jalur Canti-Anak Krakatau ini masih lebih jinak dibandingkan dengan pemberangkatan dari Anyer atau Carita, Banten.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit,tibalah kami di spot pertama yaitu Pulau Sebuku Kecil, sebuah pulau kecil dengan pasir yang putih dan potongan-potongan karang putih dan airnya yang biru jernih. Untuk menepi, kapal bisa merapat karena memang dipesisir pantainya tidak terdapat karang. Disebrangnya tidak beberapa jauh terdapat pulau Sebuku besar dan dari kejauhan terlihat gunung Sebesi.Untuk menuju kesana jalurnya diapit oleh dua pulau sebuku ini . Karena kete
rbatasan waktu,rombongan segera menyusuri pantai dan tak lupa mengabadikan keindahan alamnya melalui kamera.Dipantai ini banyak dijumpai kerang-kerang indah dan ubur-ubur yang terdampar.

Perjalanan selanjutnya
menuju pulau Umang-umang yang letaknya dekat dengan pulau Sebesi dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Pulau ini sering juga disebut orang Pulau Belitung kecil karena tersusun oleh batu-batu vulkanik yang besar-besar dan juga pasir putihnya seperti yang ada di Pulau Belitung .Di pulau ini kapal tidak bisa merapat karena banyak karang disekitar pantainya, otomatis untuk menuju kepulau tersebut harus dilalui dengan berenang.Beberapa rekan yang tergoda dengan birunya laut serta terumbu karang dan ikan hiasnya langsung menceburkan diri dan bersnorkel ria menikmati keindahan bawah lautnya.Dibalik pantai ini kami juga menemukan surga tersembunyi, pantai pasir putih yang disepanjang jalurnya ditumbuhi terumbu karang sangat cocok untuk dijadikan media pemotretan nature.Rasanya belum puas menikmati keindahan Pulau tersebut,namun kami harus melanjutkan perjalanan karena hari sudah mulai senja untuk menuju Pulau Sebesi tempat kami menginap .

Keesokan harinya,setelah beristirahat semalam,agenda pagi dihari kedua adalah tujuan utama kami yaitu pendakian Gunung Anak Krakatau.Seperti dihari sebelumnya,dalam perjalanan laut dengan kapal motor ,rombongan lebih banyak duduk di atas kapal dibanding didalam kamar.Walaupun sengatan sinar matahari cukup terik namun rasanya sayang untuk mengacuhkan keindahan lautnya begitu saja.Dari kejauhan terlihat jelas keanggunan Anak Krakatau yang menjulang tinggi, sun
gguh dramatis, seakan kita berada di negeri antah berantah. Gunung Anak Krakatau memang menyiratkan misteri. Berbagai keanehan sejak dulu menyelimuti gunung yang berdiri kukuh di tengah laut Selat Sunda tersebut. Proses munculnya juga penuh kejutan, berawal dari letusan dahsyat “induknya”, yakni Gunung Krakatau (813 meter) pada 27 Agustus 1883.

Mendekati anak gunung krakatau gelombang laut mulai besar dan perahupun mulai bergoyang karena memang sudah berada dila
utan lepas. Di dalam kamar pun bukan berarti terhindar dari terjangan ombak. Air laut yang masuk melalui jendela-jendela kecil membuat kami basah dan beberapa rekan ada yang tidak kuat untuk menahan muntah

Setelah 2 jam perjalanan ,akhirnya kami tiba di Legon cemara ( pantai anak Krakatau ).Pasir hitam dan batu apung putih kecil-kecil yang selalu menarik minat para penambang menyambut kami. Gunung ini merupakan hasil
kegiatan vulkanik tiga pulau, yaitu Rakata, Sertung dan Panjang, sisa letusan dahsyat Krakatau pada 27 April 1883 yang tumbuh antara tahun 1927-1929. Ketika meletus, lebih dari 35.000 korban jatuh, ditambah dengan gempa dan kegelapan planet bumi akibat debu vulkanik yang menutupi atmosfer. Kegiatan vulkaniknya membuat gunung ini masih terus tumbuh dan bertambah beberapa meter setiap tahunnya.

Pos untuk memulai pendakianpun sangat sederhana hanya berukuran sekitar 2x2 meter dan tanpa dinding.Disini juga terdapat plang Cagar Alam Krakatau dan papan informasi sejarah singkat terbentuknya gunung anak krakatau ini.Sebelum memulai pendakian tak lupa kami mengabadikan moment ini den
gan background plang Cagar Alam Krakatau.

Embusan angin kencang yang menerbangkan debu serta sengatan terik panas matahari siang itu ditambah tanah di gunung ini yang berupa pasir hitam dan lengket,cukup membuat kaki terasa berat untuk melangkah. Pendakian selama 30 menit mengantarkan kami ke gundukan pasir memanjang yang menyerupai benteng, melewati dataran pasir dan batu-batuan yang terbentuk dari lava.


Beruntung saat itu Anak Krakatau tidak sedang “terbatuk-batuk “ sehingga kami bisa mendaki sampai dengan patok ke 8,ketinggian maksimal pendakian yang diijinkan oleh ranger. Itupun sebenarnya sudah cukup rawan karena sebenarnya posisi tersebut sangat berdekatan dengan kawah yang masih aktif sedang posisi magma tepat dibawahnya.

Semua kelelahan terbayar lunas, ketika kami tiba di leher Anak Krakatau ini. Dari atas sini pemandangan lepas sangat jelas terlihat, lautan biru membentang luas dikelilingi pulau panjang dan induk anak krakatau pulau Rakata.Sedang di puncak anak gunung krakatau sendiri masih terlihat ada asap putih yang mengepul dari salah satu kawahnya yang menandakan bahwa gunung ini masih aktif . Disini juga terdapat alat pengukur tektonik gunung ( gelombangnya dikirim ke stasiun pengawas di Kalianda ) yang sudah rusak terkena letupan batu-batuan sebelumnya .Di sepanjang puncak gunungnya terdapat pasir putih yang merupakan abu vulkanik .Teman-teman segera memanfaatkan untuk merekam moment ini melalui kamera dengan berbagai gaya dan tak lupa ditemani bendera “kebangsaannya” masing-masing.

Gunung yang pernah meletus tahun 1883 ini, memiliki dua puncak yakni Rakata Besar (813 mdpl) dan Anak Krakatau (280 mdpl) yang mana di puncak ini terdapat dua buah kawah yang masih aktif .

Di pulau sekitar Krakatau berada, pertumbuhan vegetasinya sangatlah minim dan perkembangan flora dan fauna di pulau ini sempat terhenti tatkala Anak Krakatau meletus tahun 1952 dan 1953.Barangkali, lambatnya laju perkembangan vegetasi di kawasan ini dikarenakan gunung Anak Krakatau yang masih terus aktif. Dari kawahnya pun masih sering tersembur batuan dan lava, bahkan pasir yang ada di punggung gunung itupun terasa panas.

Flora yang dapat ditemui disini diantaranya adalah kelapa, ketapang dan cemara sementara untuk faunanya jika beruntung kita bisa melihat biawak ,penyu hijau, ular phyton ,kalong ,burung raja udang , kadal dan kupu-kupu.

Setelah beberapa saat berada di atas gunung, kami harus melanjutkan perjalanan pulang karena sesuai agenda diharapkan tiba di Canti pukul 16.00 supaya tidak pulang terlalu malam.Akhirnya kami harus meninggalkan anak Krakatau dengan segala keindahannya yang masih terbayang-bayang.Beruntung teman-teman berhasil mengabadikannya melalui kamera sehingga kami masih bisa menikmatinya walaupun hanya melalui foto.

Sampai jumpa Krakatau mudah-mudahan suatu saat kami bisa berkunjung lagi kesana, menikmati pesonamu yang belum terpuaskan…….

2 comments:

  1. terimakasih gan inponya menarik sekali, semoga saja artikel ini bisa bermanpaat bagi yang membacanya.

    ReplyDelete